Maafkan Kami, Ibu...
Bone, 10 Maret 2015
Setelah menyelesaikan Final Exam GTP di Surabaya, akhirnya saya bisa menyempatkan diri pulang untuk menjenguk orang tua di kampung.
Sudah beberapa hari ini Ibu sakit.
Yang membuat saya khawatir, Ibu tidak mau diantar ke dokter untuk memeriksa kondisi tubuhnya.
Saya pun semakin ingin segera pulang.
Perjalanan pulang ke Bone
Sekitar pukul 20.00, saya tiba di Bandara Sultan Hasanuddin.
Begitu keluar dari bandara, saya langsung menelepon salah seorang sopir angkutan umum yang biasa saya tumpangi menuju Bone.
Kebetulan malam itu beliau memang mendapat jadwal perjalanan yang agak larut.
Kami pun membuat janji.
“Jam 11 ya, Pak.”
Saya menunggu di workshop di depan pintu keluar bandara.
Ternyata...
telat juga.
Hihihi...
Tidak masalah. Yang penting bisa pulang.
Perjalanan menuju Bone memakan waktu sekitar 5 jam.
Tapi anehnya, perjalanan malam itu saya nikmati sekali.
Mungkin karena rasa lega setelah menyelesaikan Final Exam GTP. Tinggal satu tugas lagi, yaitu menyelesaikan essay yang diberikan oleh tim penguji.
Di tengah perjalanan saya tertidur.
Capek sekali.
Tapi rasanya ploong...
Satu tahapan sudah selesai.
Tidak terasa, perjalanan sudah mendekati rumah.
Bertemu Ibu
Saat adzan Subuh berkumandang, saya akhirnya tiba.
Begitu melihat Ibu masih tertidur, hati saya langsung terasa tidak enak.
Wajahnya terlihat lemah dan lesu.
Saya mengambil kain sarung dari lemari, kemudian berwudhu dan berangkat ke masjid.
Jamaah Subuh tidak terlalu banyak, seperti biasanya.
Setelah selesai shalat, saya kembali ke rumah.
Bapak, Ibu, dan adikku ternyata sudah selesai shalat dan mulai beraktivitas.
Melihat piring-piring di dapur masih berantakan, saya langsung membereskannya.
Hal-hal sederhana seperti ini terasa berbeda ketika kita sudah lama tidak berada di rumah.
Membujuk Ibu ke dokter
Tidak lama kemudian, saya kembali membujuk Ibu agar mau diperiksa dokter.
Setidaknya kami bisa mendapatkan informasi yang lebih jelas tentang kondisi tubuhnya.
Namun Ibu tetap menolak.
Katanya,
“Ibu baik-baik saja.”
Saya tahu, mungkin bagi Ibu sakit itu bukan sesuatu yang perlu dibesar-besarkan.
Tapi bagi anak yang melihat ibunya lemah, tentu rasanya berbeda.
Beberapa hari kemudian, akhirnya kami berhasil membujuk Ibu.
Senin malam kami berangkat ke kota.
Tujuan kami Dokter Lili, seorang dokter senior yang membuka praktik di Kota Watampone.
Setelah diperiksa, hasilnya cukup melegakan.
Tekanan darah normal.
Kolesterol normal.
Asam urat juga normal.
Hanya gula darah yang sedikit lebih tinggi.
Dokter kemudian memberikan satu pesan yang justru membuat saya berpikir:
Ibu jangan terlalu dibebani pikirannya.
Setelah kami ajak berbincang lebih jauh, perlahan kami memahami sesuatu.
Ternyata Ibu memang sedang sangat rindu kepada anak-anaknya.
Saya dan adik laki-laki memang sudah lama tinggal jauh dari beliau.
Mungkin rasa rindu itu tidak pernah benar-benar beliau ceritakan.
Mungkin juga selama ini hanya disimpan sendiri.
Dan akhirnya saya sadar...
Kadang yang dibutuhkan seorang ibu bukan obat yang mahal.
Bukan pula pemeriksaan yang rumit.
Tetapi mungkin hanya anaknya pulang dan duduk di sampingnya.
Ibu...
Maafkan kami.
Kami memang tidak selalu bisa berada di dekatmu.
Kami punya pekerjaan, punya tanggung jawab, dan kehidupan yang harus dijalani jauh dari rumah.
Tapi satu hal yang tidak pernah berubah:
Kami tetap mencintaimu.
Semoga Allah selalu menjaga Ibu, memberikan kesehatan, umur yang penuh keberkahan, dan kesempatan kepada kami untuk terus berbakti kepada Ibu dan Bapak.
Post a Comment
0Comments